Senin, 06 Juni 2011

Jangan Naik Limosin di Bogor!


Sepertinya My lovey-dovey lecture Mbak Nita merespon postingan terakhir saya. soalnya kemarin jam 2 siang saya terima sms beliau yang memberi info tentang simposium internasional wakaf.Free of charge. Tanggal 6 Juni. Itu berarti hari ini. Simposium ini diadakan oleh BWI di mana dua daftar koresponden yang akan saya wawancara berasal dari sana. Saya langsung cek ke TKP. Acara diadakan di Hotel Milenium Jakarta, jam 8. Pembukaan terbuka untuk umum. That’s the only info. Saya gak tau siapa pembicaranya, yang penting saya ketemu sama pihak BWInya. Saya juga gak tau rutenya. Tapi selama anda di Jakarta kalo nyasar pasti kalo muter-muter akhirnya sampe tujuan (pengalaman teruji berkali-kali)

Bismillah. Saya pergi dari rumah numpang mobil Yahalang. Lumayan. Hemat 5000 rupiah buat beli Kopi dari vending machine ntar di Gambir. J. Saya naik Pakuan express biar cepat, dan jaga-jaga kalo nyasar gak telat-telat amat. Sampe di stasiun saya salah nanya orang. Bukannya penumpang biasa tapi tukang ojeg. Saya nanya,”hotel Milenium yang sebelum BI, kesananya naik apa?”. “Wah, jauh itu neng, naik ojeg aja, 15.000.” Saya pun malas nanya-nanya. Yang penting sampe di tujuan tanpa nyasar. Dan Ya ampun! Ternyata dekat banget. Harusnya 5.000 aja cukup. Tapi saya gak nyasar dan datang tepat waktu. Jadi tetap saja, saya berterima kasih sama si tukang ojeg. Semoga rezeki yang diterimanya hari ini berkah. Amin.

 
Sampe di sana saya adalah peserta yang pertama datang. Padahal saya telat 18 menit. 15 menit kemudian berdatanganlah bapak-bapak atau mungkin kakek? Mereka ngobrol pake bahasa arab. Saya berasa sedang duduk di atas onta dan sedang mengitari padang pasir. Tapi saya sadar di padang pasir pasti panas. Gak dingin, setelah di cek ternyata saya duduk di atas kursi dan di dalam convention hall Hotel Millenium Kebon Sirih. Bapak-bapak dan kakek-kakek mulai rame. Tapi saya gak melihat satupun mas-mas. :sigh:

Dan kira-kira 10 menit kemudian saya melihat dua wanita yang familiar. “Oh Madam Ani (salah satu dedengkot manajemen kampus saya) dan di belakangnya ada yang mungil-mungil ..Wah! (saya teriak dalam hati) Mbak Nita, heheh.” Akhirnya saya tidak sendiri.

Sebelum mereka datang saya sempat tanya ke panitia, apakah saya boleh ikut seluruh rangkaian acara hingga tanggal 9, karena ternyata yang datang adalah perwakilan nazhir dari beberapa daerah di Indonesia dan mancanegara. Lumayan buat studi literatur skripsi saya. tapi si mbak panitia bilang kalau gak diundang hanya boleh ikut sesi pembukaan. Hiks! Tega. Ngapain saya cuman dengar orang ngomong dengan bahasa yang saya gak ngerti? Yang saya bisa tangkap hanya awwalan, wa tsaaniyan, tsaalisan, Insyaallah..Insyaallah..you find a way. Yup! Karena acara ini disponsori oleh Kuwait Waqf Foundation jadi pembukaan full bahasa arab. Ada bahasa inggrisnya juga sih secuil. Saya harap proses bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional cepat terealisasi. Hiks
Nah, pas coffe break adalah waktu ideal buat pedekate ke para nazhir maupun pihak BWI. Tapi saya gak ada nyali. Dua orang sempat saya tanya-tanya malah hanya ngerti wakaf produktif berupa asset. Bukan wakaf tunai. Itupun gak sesuai dengan yang saya pahami. Agak nyeleneh. Mereka juga sudah sepuh jadi saya gak enak mau interupsi. Saya hanya dengar sambil manggut-manggut. Pas saya complain ke Mbak Nita, ini jawaban beliau,”Ih, itu kan bisa jadi tambahan permasalahan kamu. “ Tring! Ya, ya. Benar, pemahaman nazhir kebanyakan juga masih konvensional. Termasuk bapak-bapak yang tadi sempat menggerutu di stand salah satu bank swasta. Bahwa wakaf hubungannya hanya dengan keikhlasan niat si pemberi. Padahal wakaf sendiri punya potensi besar untuk kesejahteraan ekonomi masyarakat. Saya gak akan beberkan kenapa-kenapanya di sini. Karena gak cukup. Saya akan bahas tuntas di skripsi saya nanti. Doakan yaa. :bigsmile:

Karena gak kunjung mendapatkan informan dan koresponden yang diharapkan, akhirnya saya ngintilin Madam Ani, Mbak Nita, dan Mbak Wisam (MC di simposium kali ini, ngomong bahasa arabnya kaya presenter Al-Jazeera, cantik, dan di usia muda sudah jadi dosen di salah satu PTN ternama, temannya Mbak Nita waktu S2 di IIUM). Dan dari Madam saya bisa ngobrol sama dua calon koresponden + 1 calon pemberi beasiswa S2 *ngareeep. Dari Mbak Wisam saya juga bisa ngobrol ,beliau bersedia bikin janji temu dengan saya. ASAP! Karena gak ada tempat duduk lagi saya harus duduk diantara dua pria, kali ini taksiran saya sih om-om, mendekati mas-mas lah. Seenggaknya bukan kakek-kakek. Dan salah satu diantara mereka adalah, Jjajang! Divisi Humas BWI. Saya pun langsung curhat, bahwa saya sedang penelitian dan minta izin buat mengikuti rangkaian acara hingga selesai. Diizinkan! Alhamdulillah! He invite me to BWI ofcourse. Semoga penelitian saya bisa berjalan lancar.

Pulang dari simposium rasanya saya bahagia hingga ubun-ubun. Dari Hotel Millenium saya jalan ke stasiun gambir. Tahu kan rasanya bahagia tak terperi (walah bahasanya?). Energi rasanya menggunung. Saya pengen teriak sanking senangnya. Di jalan saya nelpon ummi. 

Wanna Have Some Coffe, Huh!
 
“Hallo, Ummmi!!”
“APAAAAA?”
“Anis senannggg!!”
“Iyaa, Ummi Tauu. Suaramu kedengaran kok. Kamu gak lagi lompat-lompat kan?”
 Saya berjalan melintasi Monas untuk pertama kalinya. (hampir empat tahun di Bogor saya belum pernah ke Monas, biariinn). My heart still shaking for happiness. Waktu ngeliat orang jogging di garis hitam saya ikut-ikutan jogging dengan busana buat acara formal. Dua mbak-mbak di samping menoleh ke saya. bapak-bapak di depan saya juga menoleh ke saya. keluarga yang lagi foto-foto melambai-lambaikan tangan ke saya, dan anak kecil yang lagi main layangan pun menunjukkan senyum manisnya hanya untuk saya. oke, mungkin mereka bukan menoleh ataupun melambai-lambai kearah saya. tapi saya yakin anak kecil itu memang senyum ke saya. soalnya saya pake kamera buat motret dia. Ah! Sayang banget lagi-lagi data di henpon saya gak bisa kebaca.

Saya menunggu kereta datang. Ada bapak-bapak meludah di samping saya. biasanya saya langsung melotot. Tapi saya hanya pindah dan tersenyum keki. Rasa bahagia masih tersisa. Saya beli kopi di vending machine, tapi ternyata kopinya gak keluar. Ludes sudah 5000 saya. tapi saya masih melangkah bahagia. Dan saya pun tiba di Bogor dengan selamat bahagia sentosa. 


Waktu saya nunggu 03, angkot warna hijau itu tiba-tiba berubah jadi limosin hitam-cantik-mengkilap. Seorang pria (joki 1)membukakan pintu depan untuk saya, “ayo neng, di depan aja berdua gak apa-apa kan. Langsung berangkat!” kaki kanan saya sudah naik. Dan samar-samar saya mendengar lagu 2ne1-La Chata mulai mengalun. Saya berasa jadi Lee Bo Young pas masuk ke apartemennya di Harvest Villa *lohh?! Tapi kemudian yang terdengar adalah suara kaset rusak. Seseorang (joki 2) menarik tas punggung saya, dan mengatakan,”Cari angkot lain aja neng, bu..bu..naik bu! Langsung berangkat!” saya melihat ibu-ibu berbaju merah akan menggantikan posisi saya, namun beliau gak enakan dan empet-empetan di belakang. Saya masih mendengar suara kaset rusak dan seorang bapak merebut posisi saya. Whattt!! Ini mimpi atau apa sih? Tiba-tiba semuanya gelap dan saya terduduk di pinggir jalan. Hanya ada satu sinar terang yang menyoroti saya. 

Saya gak percaya sama tingkah polah sama joki angkot sekarang. Bahkan seorang joki angkot pun menolak saya.(Masalah duit seribu-dua ribu emang ga mempan lagi bagi para joki untuk bedain wanita beneran sama wanita jadi-jadian). jadi apa mungkin akan ada kesempatan bahwa Kim Dong Yoon akan memasangkan cincin di jari jempol saya? mungkin kah? Saya terhina. Di saat-saat paling bahagia, saya malah dibuang oleh seseorang yang bahkan tidak pernah saya bayangkan. Oke. Pesan moralnya adalah Sesuatu yang berlebihan itu gak baik Readers! Bahagia secukupnya. Sedih secukupnya. Cinta secukupnya. Benci secukupnya. Dan lakukan semua itu dalam takaran yang tepat. JANGAN BERLEBIHAN!

Tadinya saya sempat berpikir kalau ada Serial drama Komedi-Romantis, mengapa saya selalu kebagian scene Komedi? Oke! Kali ini saya akan banyak-banyak nonton serial Thriller-Suspense. I Will Revenge *ikut gayanya Han Hyo Joo di nonstop 5. Ah ya, City Hunter gak termasuk list. Karena masih ada unsur Komedinya. Pokoknya mulai saat ini saya anti Serial komedi. Ups! Lupa, antinya JANGAN BERLEBIHAN!

NB: Buat yang muslim jangan lupa tunaikan zakat. dan sering-sering Sedekah + Wakaf. Agar ke depan gak ada kejadian joki-joki angkot yang (maaf) gak sopan. eh, salah. ntar aja deh baca skripsi saya (promosi) wkwkw

10 komentar:

  1. lucu, seru, happy... itu yg saya rasakan selesai baca posting ini

    miss drama queen on reality, oucchhhh... :D

    BalasHapus
  2. kayaknya segala pujian udah diborong Adhi Glory deh buat mbaknya..

    kalo gitu saya nyumbang rating ama reaksi deh. :)

    BalasHapus
  3. ass,
    ternyata ada joki2 angkot juga ,
    saya ketinggalan info hal tersebut
    ngga akan deh naik limosin di Bogor.

    BalasHapus
  4. setuju sama Adhi Glory, seru sekali postingannya :D

    BalasHapus
  5. joki angkot gimana sih? bingung...

    BalasHapus
  6. saya dukung Indonesia jadi bahasa internasional...


    krn itu ayo jajah inggris dan amerika :D

    BalasHapus
  7. @hilsya joki angkot tuh kalo di bogor biasanya mereka nyari penumpang buat masuk ke angkot yg lagi ngetem. biasanya 1 penumpang 500. jadi yang paling banyak masukin penumpang ya paling gede duitnya. heheh...

    @bunda nura welcome to bogor bunda, kalo mau naik limosin ya monggo. banyak pengalaman menarik juga kok biasanya di dalam limosin :)

    BalasHapus
  8. @Adhi drama queen? saya masih princess. mungkin 5 tahun lagi baru jadi queen. *apa coba

    @Bli kumawo ratingnya :)

    @fajri :D

    @skydrugz lalala.. ayo kita galang persatuan pendukung Indonesia menjadi bahasa internasional, biar prosesnya makin cepat..

    BalasHapus
  9. yes, uri onnie emg slalu pny pengalaman kocak utk dibagi.. keep posting yaa anis!

    BalasHapus
  10. ngomongin joki, sebenernya saya ga setuju adanya joki 3 in 1 di jakarta. peraturan itu kan dibuat agar tiap keluarga cukup bawa 1 mobil aja. tapi dengan gini tiap anggota bisa punya mobil masing2..

    btw, ikut dukung deh bahasa indonesia jadi bahasa internasional. bila perlu ruoiah jadi patokan harga di dunia. huahaha

    BalasHapus

silahkan berTANYA atw berNYATA..^^